Rasa
Jogjakarta,
09 Maret 2018
Seharusnya
kamu mengikuti saran ku saja agar kita tidak kehujanan. Tetapi kamu memang
sangat keras kepala. Dari warung lesehan itu kerumahku, jaraknya cukup jauh,
dan kamu harus memutar dua kali lebih jauh untuk pulang. Tetapi itulah hebatnya
jatuh cinta. Semua terkalahkan oleh rasa yang sedang ada.
Lalu,
hujan semakin deras. Aku memakai baju kemeja maroon malam itu. Sedangkan kamu
memakai baju putih lengan pendek, tak lupa dengan jaket denim kesayangan mu.
Kamu pun menyarankan agar aku memakai jaketmu, agar tidak basah kuyup.
Tapi aku
menolak dengan jawaban bahwa kamu jauh membutuhkannya. Tapi itulah kamu. Kamu
menepikan motor scoopy mu, hanya untuk memakaikan jaketmu ke badan ku.
Sesampainya
didepan rumah, aku langsung turun dari scoopy merah hitam mu itu. Kamu pun
masih konyol dengan melindungi kepalaku dari rintikan hujan hingga kedepan
teras. Kamu juga menolak ajakanku untuk masuk sekedar minum teh atau
mengeringkan badan mu yang sudah basah kuyup.
Kamu
membantu melepas helm yang masih ku pakai dan berpamitan dengan alasan hujan
akan semakin deras. Aku tertawa dan berlagak: “ Bukan kah sejak tadi hujan memang
sudah deras? Bilang saja kamu gugup ketika berada denganku.”
Kamu
menyandarkan tubuh mu ke dinding, melipat tangan ke dada dan menatap ku lurus:
“ Kalau
saja bisa, seharian maunya sama kamu. Kamu jangan sering-sering tertawa didepan
ku”
Aku
spontan menyander argumen mu, dengan muka polos mu itu kamu menjawab: “ Nanti
aku sulit untuk tidur. Terbayang tawa mu terus”
Aku
tertawa mendengar kalimat dengan logat jawa mu, dan aku mengalihkan dengan melirik
jam tangan ku, dan menyuruhmu untuk segera pulang, bukan hanya hari yang
semakin malam, melainkan hujan juga semakin memainkan kita. Berlama-lama dengan
mu hanya akan mengundang rindu nantinya. Persis di akhir tahun lalu, disaat
hujan dan segelas kopi benar-benar menenangkan kita malam itu. Bermodal topik
seadanya kamu memberanikan diri mengajak ku bicara, aku tau kamu enggan tapi
harus, mengapa? Karena hujan, ia ingin membuat mu lebih lama bersamaku.
Kamu pun
berpamitan pulang dengan ibuku dan berlalu dari terasku. Aku berteriak akan
mengembalikan jaket mu esok. Kamu hanya menunjukkan senyum mu.
Dua puluh
menit kemudian aku menelfon mu, hanya sekedar memastikan kamu sudah dirumah dan
baik-baik saja. Belum sempat aku berbicara, kamu mengatakan “ Jangan
sering-sering merindukan ku, aku sudah dirumah dan baik-baik saja. Pergilah
istirahat, perempuan butuh banyak tenaga, untuk menangis, bahagia, bahkan jatuh
cinta juga.“
Aku
tertawa dan : “ Jika semua orang menginginkan sosok Dilan di kehidupannya,
menurutku sosok Arya jauh lebih baik.”
Laluuu : “
Kamu tau apa yang membuat seorang laki-laki tampak sempurna dimata seorang
perempuan? Dia ada, dia bermakna karena seorang perempuan. Dilan takkan seperti
itu jika bukan karena Milea, jadi mengertilah jika bukan karena kamu maka Arya
tak seperti ini. “
Komentar
Posting Komentar